My Cy-World

Just for fun. Take out with full credit!
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 September 2010

Love...

I want to say something, but it's hard to say. 
Guess that makes me happy, but also sad. 
I do not know whether it's taste. 
People say this feeling is love.But, why love makes me so sick? 
What fault in love, so that love makes my heart sick? 
All I know, love is beautiful, but why this?
Often I feel sad, imagine yourself, someone who had settled in my heart. 

I often regret I have loved you. 
But I just can not forget you. 
My love so deep you. 
I should be lucky and happy to love you. 
But did you know, how in the sense that I feel? You never know nor care about me.
Of course you do not care about me because I'm away from you and you do not know. 
But, did you know that I want to give up my life for you?
One thing that I want, I want you to feel in my heart and I want you to know I love you so much ...


뭔가, 하지만 그것은 말씀 드리기 어려워요 말하고 싶습니다.누가 나를 행복뿐만 아니라, 슬픈 생각이 들어요. 난 그건 여부 맛을 몰라. 사람들은이 느낌이 사랑이라고. 하지만, 왜 사랑이 날 이렇게 아프게?왜 사랑에 잘못이 너무 사랑은 내 마음 아프게 하죠?모두가 내가 아는, 사랑은 아름답지만 왜?
자주 슬픈, 자신을 상상 느낌, 내 가슴에 정착했던 사람. 제가 종종 내가 당신을 사랑 드려 죄송합니다. 하지만 난 그냥 당신을 잊을 수 없어. 내 사랑 당신을 깊이. 제가 운이과 행복을 사랑해야합니다. 하지만 당신은 아세요 내 기분이 어떤지 이해가가? 넌 모를도 나에 대해 쓰지. 내가 너와 떨어져 있으니까 당연히 당신은 나에 대해서 상관 없어 당신은 몰라요.하지만, 당신은 내가 당신을 위해 내 인생을 포기하고 싶은 아세요?
한가지는 내가 원하는, 난 당신이 내 마음에 느끼고 싶은 당신이 내가 너무나 당신을 사랑하고 싶은 말이 ...


 Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit untuk kukatakan.
Rasa itu membuatku senang, tapi juga sedih.
Aku tak tahu rasa apakah itu.
Orang-orang mengatakan rasa ini adalah cinta.
Tapi, mengapa cinta membuat hatiku begitu sakit?
Apa salahku pada cinta, sehingga cinta membuat hatiku sakit?
Yang kutahu, cinta itu indah, tapi mengapa begini?

Seringkali aku merasa sedih, membayangkan dirimu, seseorang yang menetap dalam hatiku.
Aku sering menyesal aku telah mencintaimu.
Tapi, aku tidak dapat melupakanmu begitu saja.
Rasa cintaku begitu dalam padamu.
Seharusnya aku beruntung dan bahagia karena bisa mencintaimu.
Tapi apakah kau tahu, seberapa dalam rasa yang kurasakan?
Kau tidak pernah tahu dan tidak peduli padaku.
Tentu saja kau tidak peduli padaku karena aku jauh darimu dan kau tidak mengenalku.
Tapi, apa kau tahu, bahwa aku mau merelakan nyawaku untukmu?

Satu hal yang kuinginkan, aku ingin kau merasakan rasa yang ada dalam hatiku dan kuingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu...

Rabu, 18 Agustus 2010

(cerita panjang berseri) Hati yang Tersentuh [part 2]





Kami pulang tepat saat waktu minum teh. Papa mengajaknya untuk minum teh bersama kami. Tapi dia menolak dengan halus, alasannya, dia ada janji dengan ayahnya untuk bertemu. ’Itu adalah keputusannya, aku tidak boleh kecewa’ pikirku.
Malam harinya, ponselku berdering pertanda ada pesan singkat baru. Tebakanku benar. Itu dari Geun Yoon. Dia menanyakan sesuatu yang membuatku segera membalas pesan singkatnya dengan kata ’ya’ ditambah dengan kalimat ’aku tidak akan terlambat lagi. Aku janji. Terima kasih’.  Pesannya adalah:
Apa kau mau berjalan-jalan lagi untuk yang kedua kalinya? Aku akan mengajakmu ke tempat yang suka kukunjungi ketika aku berada di sini. Jika kau mau, aku akan menjemputmu jam 8 pagi.
Geun Yoon.
            Paginya, aku sudah siap sebelum Geun Yoon menjemputku. Dia tersenyum ketika melihatku menunggunya dan aku segera masuk ke dalam mobilnya.
            Kali ini, dia mengajakku mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Jepang. Dia memberitahuku sejarah-sejarah tentang Jepang dan sekitarnya. Setelah lelah berjalan-jalan, karena Geun Yoon ingin makan es krim, aku ikut dan menurut saja. Setelah selesai makan es krim, saat kami melewati pintu depan, kulihat seorang anak kecil sedang menangis. Aku mendekatinya dan mencoba bertanya padanya (dalam bahasa Jepang tentunya).
            ”Adik kenapa?”
            ”Aku terpisah dari mama” jawabnya sambil terisak.
            ”Terakhir kali, adik bersama dengan mama di mana?” tanyaku lagi.
            ”Di tempat pemesanan es krim. Tadi ramai sekali, sehingga aku terpisah dari mama” jawabnya.
            Toko es krim itu cukup luas. Maklum, ini adalah toko es krim paling besar dengan es krim yang terkenal enak di daerah kota Tokyo. Luasnya lebih dari tiga mini market. Setiap harinya juga selalu ramai dikunjungi, terutama para turis asing. Jadi, jika tidak hati-hati, kita dapat terpisah dengan kerabat kita seperti anak ini.
”Lebih baik kita pergi ke bagian informasi saja” saran Geun Yoon yang sejak tadi ikut membantu menenangkan anak ini.
”Ide bagus Yoon! Ayo kita ke sana, dik. Kami akan membantumu sampai kamu dapat bertemu lagi dengan keluargamu” kataku sambil tersenyum.
”Terima kasih, kak” kata anak itu sambil mengusap air matanya.
Anak itu bernama Hitaru Moragami. Hitaru yang kini duduk di taman kanak-kanak, merupakan anak dari ibu seorang dosen yang mengajar di bidang teknologi di universitas terkenal. Ayahnya sudah meninggal saat Hitaru masih bayi karena kecelakaan. Dan dia hanya tinggal bersama ibunya. Dia anak tunggal.
Sekitar 10 menit kemudian seorang ibu terengah-engah menghampiri kami. Ternyata, ibu itu adalah ibu Hitaru.
”Terima kasih kalian telah menolong anak saya. Terimalah ini sebagai tanda terima kasih saya. Bukan jumlah yang banyak, tapi saya harap anda mau menerimanya” kata ibu Hitaru sambil menyerahkan kepada kami amplop berisi sejumlah uang. Matanya bersinar-sinar. Tampaknya, ia sangat senang dan terharu.
”Terima kasih bu. Tetapi kami membantu dengan ikhlas. Kami tidak mengharapkan imbalan” ucapku. Geun Yoon menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
”Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih banyak” kata ibu Hitaru. Hitaru meniru sikap ibunya tersebut. Setelah itu mereka pulang.
”Hitaru anak yang manis ya...” kata Geun Yoon di perjalanan menuju residence papa.
”Benar. Anak itu lucu sekali” kataku sambil menyipitkan mata dan tersenyum.
”Sama sepertimu” katanya cepat.
”Apa?” Aku tidak terlalu jelas mendengar perkataannya. Tapi, apakah telingaku tidak salah menangkap bahwa dia mengucapkan kalimat ’sama sepertimu’?
Malam itu, kami makan malam bersama. Dua keluarga. Keluargaku dan keluarga Geun Yoon. Seperti biasa, Geun Yoon selalu tampil manis dan tampan, juga keren. Lagi-lagi, aku ternganga dibuatnya. Hanya saja, kali ini tingkah lakuku diketahui olehnya. Aku dengan cepat menutup mulutku dan berusaha seperti biasa, santai.
Acara makan malam di awali dengan berdoa lalu berdansa bersama. Papa tidak ikut. Karena selain tidak mempunyai pasangan dansa, papa juga tidak bisa berdansa. Keluarga kami memasangkan aku dengan Geun Yoon. Aku merasa tidak enak dengan hal ini. Sedangkan Geun Yoon malah tersenyum.
Saat kami tengah berdansa, aku merasakan rasa yang membuatku tidak nyaman itu kembali. Aku melepaskan tangannya dari pinggangku, dan berlari. Aku segera berlari ke dapur dan mencari air mineral. Ternyata Geun Yoon mengikutiku. Dia mengambil gelas dan memposisikan gelas itu ke dekat kran, lalu memberikannya padaku. Aku lupa, kalau di Jepang, ada air yang sudah bisa dan aman untuk diminum.
”Minumlah yang banyak agar kau merasa lebih baik” katanya.
”Baik” ucapku.
”Wajahmu terlihat pucat. Apa kamu sakit?” tanyanya.
”Tidak” jawabku singkat.
”Ayo kita kembali. Acara makan malam belum selesai. Kau masih mampu, tidak, melanjutkan makan malam? Jika tidak, beristirahatlah” katanya tersenyum sembari meninggalkanku.
’Aku masih mampu tidak ya?’batinku. ’Apa yang harus kulakukan?! Karena setiap kali aku bersamanya, rasa ini pasti kembali. Oh ya, acara belum selesai. Aku tidak boleh mengecewakan papa’ kataku dalam hati, kemudian pergi dari tempat itu.
Untung, Geun Yoon dan keluarganya adalah orang-orang yang baik. Mereka mau memaafkanku atas perbuataanku tadi.
Geun Yoon mengajakku untuk pergi dari tempat itu dengan tujuan membakar marshmellow di tepi kolam renang (yang tidak jauh dari tempat makan malam).  Aku tidak mungkin menolak tawarannya karena itu bisa saja membuat Geun Yoon sakit hati. Jadi, aku terima saja tawarannya.
”Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Geun Yoon saat kami mulai membakar satu persatu marshmellow.
”Tentu saja. Ada apa?” ucapku.
”Kamu mengidap suatu penyakit ya, yang mengharuskan kamu minum banyak air putih? Jika iya, lain kali aku akan menyediakan banyak air putih untukmu” katanya.
”Aku,..” Aku bingung harus menjawab apa. Tepat saat aku akan berkata jujur padanya, ponsel Geun Yoon berdering.
”Maaf, aku harus mengangkat telepon ini dulu” katanya sambil pergi meninggalkan tempat.
Huh... aku lega sekali. Aku terus berpikir apa jawabanku jika dia menanyakan hal itu lagi sambil mengawasi dan membolak-balik marshmellow supaya tidak gosong.
Beberapa saat kemudian dia kembali. Hatiku semakin kacau rasanya. Rasa itu kembali ditambah dengan rasa gugup. Tangan dan kakiku dingin. Aku dapat merasakannya.
”Ayah dan ibu kita memanggil kita” katanya sambil tersenyum, menarik tanganku dan membawaku pergi kembali ke meja makan.
Rupanya, keluarga Geun Yoon mohon pamit. Salah satu kerabat dekat mereka masuk rumah sakit. Mereka harus menjenguknya sekarang, karena setelah makan malam ini, ayah dan ibu Geun Yoon akan pergi ke Jerman. Mereka tidak memiliki waktu banyak, sehingga mereka harus menjenguknya sekarang.
Setelah mohon maaf, berpamitan dan pergi, aku segera pergi ke kamar. Hatiku terasa aneh dan janggal. Aku merasakan rasa itu hampir setiap kali aku melihat Geun Yoon tersenyum. Ada apa sih denganku?
Aku berusaha melupakan kejadian yang membuatku tidak nyaman, tidak menghiraukan rasa itu dan segera pergi tidur. Aku merasa tenang. Semoga aku merasa lebih tenang setelah beristirahat.
Aku bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Aku berniat untuk berolahraga, lari pagi. Aku segera mempersiapkan diri, mengambil music player berserta head-set/ear phone-nya, dan mengendap-endap keluar residence. Tapi, di gerbang aku terpaksa menyerah dan berterus terang pada pak satpam (Tidak. Aku tidak sepenuhnya berterus terang. Aku akan berbohong sedikit ^^) karena selain gerbang depan dijaga dengan ketat, bagian dalam sebelum gerbang, terdapat lapisan sinar laser yang akan berbunyi ketika seseorang yang melewatinya.  Sinar laser itu berwarna kehitaman dan hanya dinyalakan pada malam hari, sehingga tidak terlalu terlihat. Di dekat sinar laser, terdapat dua buah kotak. Kotak yang satu berada di sisi depan laser, yang satunya berada di sisi belakang. Jika ingin melewati sinar laser dan membuatnya tidak berbunyi, kita harus memasukkan kode pada kotak itu dengan cara menekan tombol yang ada di situ. Tidak ada yang tahu kode rahasia itu, kecuali papa dan beberapa satpam kepercayaan papa.
Aku mendatangi pos satpam pertama yang berada di belakang sinar laser tersebut. Aku mengetuk pintunya dan terdengar suara dari dalam. ”Siapa itu?”
Pak satpam membuka pintu dengan cepat dan mengarahkan tongkatnya tepat di depan wajahku. Ketika melihat wajahku, satpam itu segera menurunkan tongkatnya dan membungkuk seraya meminta maaf.
”Pagi-pagi begini, nona sedang apa?” tanya pak satpam.
”Tolong bukakan gerbangnya untukku. Oya, sinar lasernya juga. Tolong matikan sebentar atau masukkan kodenya. Aku ingin lari pagi” kataku.
”Tapi nona kan tahu sendiri. Nona tidak boleh keluar dalam keadaan sepi dan masih gelap begini tanpa ditemani. Bisa-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ijinkan saya untuk memanggil beberapa pengawal untuk menemani nona.”
”Jangan!” cegahku. ”Jangan. Tidak perlu. Aku akan lari pagi dengan Geun Yoon, anak kenalan papa yang sering main ke sini itu, lho. Kan bapak sering melihatnya bersamaku tanpa ditemani orang lain. Berarti papa telah mengijinkanku bersamanya.”
”Mohon tunggu sebentar” kata pak satpam. Ia masuk ke pos nya dan melihat ke layar komputer yang dihubungkan dengan kamera tersembunyi/CCTV. Setelah memastikan di lingkungan luar gerbang tidak ada Geun Yoon, pak satpam menghubungi pos satpam depan dengan handy talky/walky talky (alat untuk berbicara dalam jarak cukup jauh. Seperti handphone, hanya saja alatnya lebih sederhana).
”Pos depan juga mengatakan bahwa tuan Geun Yoon tidak ada dan tidak menunggu anda” pak satpam menyimpulkan.
”Kami bertemu di perempatan sana” kataku mengarang.
Meskipun dari ekspresinya, aku dapat mengetahui bahwa pak satpam tidak percaya padaku, tapi, toh, pada akhirnya, beliau membukakan gerbang untukku.
”Terima kasih” ucapku sambil tersenyum. Sesampainya di luar, aku segera berlari, karena aku tahu pak satpam itu pasti akan memanggil beberapa bodyguard. Dugaanku benar. Aku mendengar langkah kaki orang lain. Langkahnya seperti tergesa-gesa. Tentu saja di perempatan depan tidak ada Geun Yoon. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Jika ketahuan aku sendiri, mereka pasti akan membuntutiku ke mana pun aku pergi.  Di perempatan aku panik, mondar-mandir tak tentu arah. Rasa panikku bertambah ketika mereka berteriak memanggilku. ”Nona!” Huft,.. huft,.. apa yang harus kulakukan?!
 Dari balik semak-semak, seseorang menarikku dan menutup mulutku. Aku terkejut dan hampir berteriak. Tapi orang yang menarikku mendahului mengatakan kalimat yang membuatku tenang dan tidak jadi berteriak. ”Jangan berteriak. Jika kau berteriak, kita akan ketahuan. Aku akan menemanimu. Jangan berteriak.” Saat itu dalam keadaan gelap aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi setidaknya aku bisa mengenali suaranya. Suara itu, suara Geun Yoon. Geun Yoon melepaskan tangannya yang mencengkeram tubuhku dan menutupi mulutku. Membiarkanku ikut melihat para pengawal mencari ke sana kemari. Setelah para pengawal pergi, kami segera keluar dari tempat persembunyian kami.
”Huh... terima kasih banyak Yoon...” ujarku sambil tersenyum. Dia membalas ucapan terima kasihku dengan senyuman hangat.
”Bagaimana kamu bisa berada di sini, Yoon?” tanyaku saat kami lari pagi bersama. Setelah kejadian tadi, Geun Yoon mengajakku untuk lari pagi bersamanya.
”Kamu sendiri bagaimana?” tanyanya.
”Aku hanya ingin lari pagi saja berolahraga. Merasa jenuh berada dalam kamar dan bangunan besar yang bagiku, membosankan,” jawabku. ”Bagaimana denganmu? Kamu belum bercerita mengenai hal ini padaku” lanjutku.
”Aku, sepertinya mengalami insomnia. Aku sulit tidur sejak kemarin malam. Tidurku tidak nyenyak, dan aku merasa tidak enak. Jadi, aku lari pagi saja.”
”Geun Yoon, bagaimana kau bisa menemukanku?”
”Kau tidak tahu ya? Oh ya, aku lupa kamu bukan orang rumah. Seluruh keluarga dan staffku sudah tahu aku suka lari pagi. Salah satu tempat yang kulewati setiap harinya adalah depan rumahmu. Kebetulan, pagi ini aku mendengar langkah orang saling berkejaran, aku bersembunyi dan ingin melihat apa yang sedang terjadi dan siapa yang saling berkejaran. Ternyata kau” katanya.
”Sekali lagi, terima kasih banyak ya...” kataku lagi.
”Bukan hal penting” ujarnya tersenyum.
”Itu sangat penting bagiku. Aku bisa lepas dari para orang suruhan papa itu membuatku sangat senang.”
”Saat kau bisa lepas dari mereka, itu membuatmu bahagia?” tanya Geun Yoon.
”Iya. Sangat.”
”Kalau begitu, aku akan lebih sering mengunjungimu. Melepasmu dari orang-orang itu” katanya sambil tertawa kecil.
”Kenapa kamu tertawa?” tanyaku heran.
”Bukan apa-apa” katanya.
Kenapa ya dia tertawa? Padahal kalau dia sering mengunjungiku, aku akan merasa sangat senang. Apa menurutnya, hal itu merupakan suatu hal yang lucu? Hmm,,.. ya sudahlah... tak apa.
Aku berlari mengikutinya, di sebelahnya. Aku tidak tahu kami sampai di mana, di jalan apa, aku tak tahu apa-apa. Aku sangat bergantung pada Geun Yoon. Jangan sampai aku tersesat dan terpisah dengannya...
Saat kami berolah raga, kami bertemu dengan Hitaru. Anak itu sedang bersama ibunya. Hanya saja ibunya sedang menjawab telepon. Ibu Hitaru melihat kami sedang berlari-lari. Beliau kemudian memanggil kami dan meminta tolong agar mau menjaga Hitaru kira-kira sampai sore nanti karena ada tugas keluar kota mendadak. Pengajaran sangat ketat, tidak mungkin membawa anak. Daripada dititipkan pada penjaga anak atau tetangga, beliau lebih mempercayai kami. Kami menerima tawaran itu, karena aku dan Geun Yoon sama-sama menyukai anak kecil. Hitaru juga kelihatannya sangat senang dapat bermain-main seharian dengan kami. Setelah itu, ibu Hitaru memohon pamit pulang. Kini, tugasku sepenuhnya menjadi penjaganya (tentu saja bersama Geun Yoon).
”Hitaru suka makan es krim?” tanyaku pada anak kecil itu.
”Tidak, kak. Maaf” katanya sambil menunduk.
”Ah, tidak apa-apa” kataku sambil tersenyum. Ini terdengar aneh. Hampir setiap anak menyukai es krim (sekalipun mereka sedang sakit, tapi mereka pasti akan mengatakan ’ya’).
”Kalau bubur bagaimana?” tanya Geun Yoon.
”Maaf, kak. Aku juga tidak suka bubur” kata Hitaru.
’Ini aneh...’ batinku.
Kami terus menyusuri kota Jepang, hingga Geun Yoon membuat keputusan.
”Kita bermain di taman bermain saja, yuk!”
Kali ini, Hitaru menjawab ’ya’.
Kami menghabiskan waktu di taman bermain. Geun Yoon terlihat asyik sekali bermain bersama Hitaru, sedangkan aku hanya mengawasinya. Menjelang sore, kami berhenti bermain.
”Kakak, aku lelah” kata Hitaru sambil menarik-narik baju Geun Yoon. Geun Yoon mengerti apa yang dia inginkan. Dia menggendong anak itu sambil melanjutkan perjalanan pulang.
”Ini,” kata Geun Yoon. ”Sesuatu yang pernah masuk dalam mimpiku, yang sampai saat ini ingin aku alami suatu saat nanti. Ternyata, aku bisa merasakannya lebih cepat dari dugaanku.”
”Harapan apa itu?” tanyaku padanya.
”Harapanku adalah,...”dia berhenti sejenak lalu mengecilkan suaranya. ”Berjalan bersama kekasihku, atau orang yang kucintai, sambil menggendong seorang anak, tidak peduli itu adalah anak orang lain. Tapi aku merasa menjadi seorang ayah.”
Kalimatnya membuatku terkejut. Spontan rasa itu datang kembali. Geun Yoon memandangku lekat-lekat. Aku segera memalingkan wajahku. Jantungku berdebar semakin cepat! Tuhan,.. tolong aku! Setelah puas memandangku, Geun Yoon mengacak lembut rambut Hitaru pelan. Aku merasa menjadi ibu dari Hitaru, dan Geun Yoon sebagai ayah, atau suamiku. Ini terdengar aneh. Aku pun merasa sangat aneh.
Saat kami hendak mengantar Hitaru pulang, kami bertemu dengan ibu Hitaru. Inilah saatnya menyerahkan Hitaru kembali pada ibunya. Sebelum berpisah, aku mencium kening Hitaru. Setelah itu, barulah kami pergi.
Di perjalanan, tangan Geun Yoon menggenggam erat tanganku. Aku merasa aneh karenanya. Tapi, hatiku merasa senang. Jadi, aku balas  menggenggam erat tangannya.
Tiba-tiba perutku berbunyi tanda lapar. Ini memalukan sekali. Tapi Geun Yoon mengerti. Dia membawaku ke sebuah rumah makan. Karena kami sama-sama suka sushi, kami memilih makanan itu. Saat menunggu makanan dihidangkan, rasa aneh itu datang kembali. Tangan dan kakiku berubah menjadi sangat dingin. Aku merasa tidak enak badan. Ketika aku hendak menyampaikan hal mengenai keadaanku ini, makanan yang kami pesan datang. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya.
Sayang sekali, yang tersedia hanya sumpit. Padahal, aku belum terlalu bisa menggunakan sumpit. Di tambah dengan keadaanku yang seperti ini (selama ini, jika aku makan sushi, aku selalu menggunakan sendok dan garpu). Tanganku gemetaran. Jadi, ketika aku berusaha ’menyumpit’ sushi-nya, sushi yang kusumpit selalu jatuh dan tidak pernah sampai mendarat di mulutku. Geun Yoon yang memperhatikanku sejak tadi segera membuat tindakan. Dia ’menyumpit’ makananku menggunakan sumpitnya, kemudian menyuapkannya padaku. Aku merasa malu, senang, dan,... yang jelas rasa ini bermacam-macam dan belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku berusaha menyumpit makanan Geun Yoon dengan sumpitku dan memasukkannya ke dalam mulutnya, dan ternyata berhasil!
Setelah kejadian itu, kami saling menyuapi satu sama lain. Pengalaman ini adalah yang tersulit untuk dilupakan. Saat perjalanan pulang, aku memikirkan hal tentang rasa itu. Aku hanya dapat menelan ludah ketika mengingat beberapa kalimat dalam curhatan sahabatku. ”Aku merasakannya ketika bertemu dan berdekatan dengannya. Rasa itu adalah rasa yang aneh disertai detakan jantung yang tidak wajar. Aku mengalaminya, dan ketika aku bertanya pada kakakku, rasa apa itu, dia menjawab itu cinta”. Aku melihat wajah Geun Yoon, dan dia juga melihatku, sambil tersenyum, dia merangkulku. Sebagai balasan, aku melingkarkan salah satu tanganku ke pinggangnya. Ini sangat lucu, bagiku.
Di jalan raya di depan (cukup jauh dari kami) aku melihat Hitaru berlari-lari. Ibunya dari belakang mengejarnya sambil berteriak : ”Tunggu!”
Sesampainya di tengah jalan, Hitaru berhenti sebentar. Dia tidak melihat kami. Malam itu sudah sangat larut, sehingga tidak ada kendaraan lewat. Suasananya sepi sekali. Tiba-tiba dari arah lain, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Geun Yoon dengan cepat menarik tubuhku dengan lengannya dan memelukku. Suara itu,.. itu,..
Aku berusaha melepas pelukan Geun Yoon dan dia melepaskannya. Satu persatu bulir air mata jatuh dari mataku. Aku tidak bisa membendungnya lebih lama lagi. Kenapa tidak bisa? Jelas-jelas Hitaru kecelakaan! Terlihat sekali bahwa yang mengemudi mobil yang menabrak Hitaru adalah orang mabuk. Dia segera melarikan diri setelah menabrak Hitaru. Ibunya menangis tersedu-sedu di samping  anaknya. Dengan lemas, aku mendekati Hitaru, Geun Yoon mengikutiku dari belakang. Aku terkejut saat mendekati jenasahnya. Aku berlutut di samping Hitaru. Kakiku lemas sekali. Satu kata yang membuat aku menjatuhkan bulir air mataku untuk yang kesekian kalinya ketika Hitaru mengucapkan kata ”maaf” untuk yang terakhir kalinya, sebelum dia benar-benar tidak ada. Geun Yoon berada di sebelahku, dan aku menggunakan kesempatan itu untuk bersandar padanya sambil menangis.
”Aku tidak percaya ini” kataku sambil terisak.
”Aku juga tidak percaya” katanya.
Aku tidak percaya karena...
Ternyata Hitaru adalah sebuah robot android! Jadi, selama ini, aku bermain bersama robot android?! Anak yang kuanggap seperti anakku sendiri adalah sebuah robot?! Aku tidak percaya...
Setelah puas menangis, aku dan Geun Yoon membantu ibu Hitaru untuk membawa robot Hitaru ke rumah ibu itu sebelum diketahui orang lain.
Sesampainya di rumah, kami berusaha menenangkan ibu Hitaru. Ketika dia sudah mulai tenang, dia mulai menceritakan segalanya pada kami. ”Sebenarnya, Hitaru sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit. Saya merasa kesepian karena suami saya juga sudah tiada. Suami saya pergi meninggalkan saya pada saat Hitaru lahir. Saya tidak kuat menjalani hidup ini sendiri, saya tidak ingin mereka pergi secepat itu. Saya sangat menyayangi Hitaru, jadi saya temui teman saya untuk membuat robot android tiruan Hitaru. Sekarang tiruan Hitaru pun hilang lagi karena kelalaian saya. Mengapa semuanya salah saya?” katanya sambil terus menangis. Aku terharu juga sehingga ikut menangis. Saya tidak pernah berpikir hidup tanpa ayah atau papa. Sedangkan Hitaru, dia mengalaminya. Aku tidak tahu, betapa beruntungnya aku selama ini. Aku memiliki orang tua yang baik terutama papa. Kenapa aku sering merasa sedih dan kesepian? Padahal ada banyak hal yang dapat kurasakan yang tidak sempat dirasakan oleh Hitaru.
Setelah memastikan ibu Hitaru tidak apa-apa, kami pamit untuk pulang. Geun Yoon akan menemaniku sebentar. Setelah sampai di rumah, kami segera duduk di rumput empuk di taman. Aku bersandar padanya dan menangis lagi. Dia mengusap-usap rambutku dan mencium keningku. Tindakannya itu membuatku kaget dan berhenti menangis.
”Maafkan aku,” ujarnya. ”Aku memelukmu tadi, kau tidak sempat menolong Hitaru.
”Tindakanmu justru membuatku lebih baik. Jika kau tidak memelukku, aku akan melihat kejadian tragis itu, dan hatiku pastilah lebih sakit dari ini. Usahaku untuk menghindarkan Hitaru dari kecelakaan itu pastilah juga tidak akan pernah tersampaikan. Jarakku dengannya cukup jauh. Tidak akan bisa sampai tepat waktu” ucapku.
Dia kembali mengusap rambutku.
Aku membuka mataku dan memandang ke sekelilingku. Aku sudah berada di kamar! Apa yang terjadi ya semalam? Untuk memastikan (bahwa aku baik-baik saja), aku segera keluar kamar dan pergi ke taman tempat kami semalam berdua. Aku menemukan Geun Yoon di sana sedang menyeruput teh hangat.
”Geun Yoon, apa yang terjadi denganku semalam?” tanyaku tiba-tiba, membuatnya sedikit terkejut. Akibatnya, teh yang diminumnya, tumpah ke bajunya.
”Kenapa memang? Kamu tertidur dalam rangkulanku. Jadi, aku angkat, maksudku gendong  kamu ke kamarmu saja” jawabnya tenang.
”Kamu tidak berbuat yang aneh-aneh, kan?” tanyaku sedikit panik.
”Aku berbuat sesuatu,” Aku panik sekali mendengar kalimatnya itu.
”Aku mengecup keningmu lagi dan mengucapkan selamat malam padamu. Dan tentu saja aku pergi. Tidak mungkin, kan, aku berada dalam kamarmu terus. Nanti, kamu bisa berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak ada di kamarmu saja, kamu sudah sepanik ini. Bagaimana jika aku berada di dalam kamarmu? Kau bisa dua kali lipat lebih panik dari ini” katanya sambil berdiri, kemudian mengacak-acak rambutku.
Geun Yoon mengetahui bahwa hatiku masih sedih dan terluka atas kejadian kemarin, sehingga dia mengajakku berjalan-jalan dengannya. Kami menikmati hari itu bersama, dan aku harap kami bisa menikmati hal-hal seperti ini sesering mungkin. Karena apa? Dia selalu dapat membuatku senang dan tertawa. Sifatnya yang kadang bisa ceria, kadang bisa tenang, selalu mengubah perasaanku menjadi lebih baik. Dan ketika kharismanya mulai keluar, gantilah diriku terpana dibuatnya.



Selasa, 17 Agustus 2010

(cerita panjang berseri) Hati yang Tersentuh [part 1]




Sore itu aku sedang menjalankan rutinitasku yaitu menyaksikan drama korea. Aku adalah seorang ’maniak’ atau penggemar berat Korea. Aku menyukai segalanya yang berhubungan dengan Korea. Mulai dari lagu, drama, film, fashion, dan makanan pun aku suka. Aku suka sekali pada Korea! Musik yang aku dengar setiap hari adalah musik dan lagu yang berasal dari Korea. Entah kenapa, rasanya Korea telah menyatu dalam diriku. Meskipun aku sangat mencintai Korea, tapi aku berusaha untuk tidak lupa pada tempat dari mana aku berasal. Mama selalu mengatakan hal yang sama dan membosankan ketika demam korea-ku mulai naik. ”Cintailah negerimu, nak.” Kata-kata itu selalu terngiang dalam benakku. Tapi, aku rasa omongan orang tuaku memang benar. Jadi, aku menurut saja.
Hatiku kembali kesal. Dramanya terasa sangat singkat (mungkin durasinya lama juga. Hanya saja, aku yang merasa dramanya berjalan begitu cepat). Kenapa tidak diperpanjang episode untuk hari ini??!!! Tapi, ya sudahlah. Seharusnya aku banyak istirahat karena sedang flu. Tapi, sejak tadi aku belum beristirahat. (Hahaha..... aku anak yang nakal ya..) Beruntung ini masa liburan, sehingga aku tidak perlu menyiapkan pelajaran. Karena tidak ada kegiatan, aku memilih untuk berbaring di kamar saja.
Aku asyik bercerita sehingga lupa memperkenalkan diriku (haha,.. maaf. Aku memang orang pelupa). Aku Angela Corine. Aku duduk di kelas 3 SMP. Aku sudah lulus dan akan beralih menjadi pelajar SMA sekaligus remaja. Ayahku adalah seorang konglomerat sekaligus pengusaha yang aku dengar dari orang-orang di sekitarku adalah salah satu pengusaha terkaya di negeri ini.
Kembali ke situasi kamarku yang sangat sunyi, merasa sangat bosan, aku mengambil remote dan menyalakan audio player dengan home teater yang membuat suara musik terdengar begitu merdu dan menggelegar di dalam kamarku. Tapi rasanya tetap saja berbeda. Berada di kamar yang besar sendirian, aku merasa kesepian dan tidak nyaman. Padahal, papa telah menyediakan fasilitas lengkap untukku. Meskipun begitu, aku tetap merasa ada sesuatu yang kurang. Di lingkungan sekitar rumahku, aku tidak memiliki teman. Karena selain aku dijaga ketat oleh penjaga suruhan papa atau yang biasa kita kenal sebagai bodyguard, anak-anak di sekitar sini juga pendiam dan jarang keluar rumah. Aku hanya merasa senang ketika berada di sekolah. Tapi ketika sampai di rumah, hari-hariku kembali terasa suram. Merasa bosan dengan lagu, aku mematikan audio player-nya dan beralih ke saluran televisi luar. Menyaksikan saluran televisi luar negeri seperti Korea, Jepang, Amerika dan lain-lain sudah merupakan hal yang biasa untukku. Jadi, jangan heran kalau aku kembali bosan. Aaarrrgghhh,,....!!!!! kenapa hidup ini terasa sangat membosankan?!
Suara klakson mobil papa terdengar menderu-deru memanggil satpam atau salah satu pelayan untuk membuka pintu gerbang. Aku merasa lebih baik ketika mengetahui papa sudah pulang. Aku selalu menantikan makan malam bersama dengan papa yang hanya bisa kunikmati bersama keluarga disaat tertentu saja. Jarang sekali dan istilahnya, dapat dihitung dengan jari. Aku segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga secepat mungkin (hampir saja aku terpeleset dan terjatuh. Tapi rupanya, Tuhan menjagaku. Puji Tuhan!) ”Papa!” teriakku sambil berlari dan jatuh dalam pelukan papa.
”Papa sangat lelah. Ayo kita duduk dulu” kata papa mengawali pembicaraan kami dengan kalimat yang sangat jelas, padat, dan singkat. Kami segera menuju sofa  yang paling dekat dengan tempat kami berdiri tadi.
”Ah,.. lelahnya...” kata papa. Papa biasa menggodaku dengan kata-kata ini karena tahu aku pasti akan bersedia memijatnya. Sebelum papa melanjutkan kalimatnya, aku berusaha untuk berbicara duluan.
”Maaf pa, mendahului. Tapi aku sudah mengerti sinyal itu. Dan aku sudah menjawab sinyal itu.”
Aku beralih tempat, duduk disebelah papa persis dan mulai memijat langannya.
”Enak...” pamernya.
”Ayo bayar!” kataku sambil berusaha menyembunyikan tawaku.
”Malas ah,.. pemijatnya nggak mutu...” balas papa.
”Kalau begitu, pijat sudah sampai di sini ya!”  kataku sambil berpura-pura melepaskan tanganku dari lengan papa. Dengan cepat papa menyahut,
”Baiklah, akan papa bayar dua kali lipat. Atau tiga kali lipat? Atau berlipat-lipat?”
”Tidak. Aku kan anak baik pa,..” kataku sambil meringis. Papa hanya mengelus-elus rambutku.
”Pa, mama ke mana? Kok seharian ini belum kelihatan?” tanyaku saat suasana mulai sepi lagi tanpa ocehan.
”Mama sedang pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Oh iya, besok papa akan pergi ke Jepang.”
Glek,.. aku hanya dapat menelan ludah membayangkan aku tenggelam dalam kesendirian dan kesunyian rumah ini. Sepertinya papa dapat membaca perasaanku sehingga papa melanjutkan kalimatnya. ”Mau ikut main ke Jepang? Kamu sudah tiga tahun ini belajar bahasa Jepang, kan? Pastinya  kamu sudah mulai lancar berbahasa Jepang. Kita akan main sebentar ke sana.”
Suasana hatiku berubah seketika. Setelah mencium pipi papa sambil mengucapkan terima kasih, aku segera berlari ke kamar. Menghempaskan tubuhku di atas ranjang yang empuk. ’Akhirnya bisa bebas dari kurungan ini’ batinku.
Esoknya, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku merasa bersemangat hari itu. Aku akan sedikit bebas, meskipun para bodyguard pasti akan mengikutiku di belakang. Mereka selalu menjagaku dan memastikan aku tetap dalam keadaan yang aman. Aku sudah hafal sikap para bodyguard itu. Setiap kali aku melengkungkan tubuhku sedikit (sengaja maupun tidak sengaja) beberapa bodyguard pasti akan menghampiriku, mungkin mengira aku terlalu lelah atau mau tidak sadarkan diri alias pingsan.
Aku harus melalukan perjalanan berangkat ke Jepang, total sekitar 5 jam lebih. Hal yang membuatku begitu gembira bukanlah karena aku pergi ke Jepang, melainkan karena aku bisa sedikit bebas, bermain sebentar dengan papa. Dibanding pergi ke luar negeri, bersama keluarga merupakan hal yang lebih penting dan membuatku bahagia yang jarang kurasakan. Kini, aku sudah tiba di bandara dan bersiap-siap berangkat ke Jepang. Asyik!
Aku memilih untuk duduk di pesawat pertama. Papa memberangkatkan dua pesawat. Pesawat yang satu untuk kami pribadi dengan beberapa asisten papa. Pesawat yang satu lagi untuk para pelayan dan bodyguard. Papa selalu ingin tetap berada dalam keadaan aman. Jadi, setiap kali bepergian ke mana pun, papa selalu membawa beberapa penjaganya.
Di perjalanan, lagu-lagu Korea mendominasi hati dan pikiranku. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap kali aku mendengar lagu Korea, hatiku selalu merasa tenang. Apalagi ketika mendengar Kim Sang Bum (aktor asal Korea) menyanyikan salah satu lagu bertajuk ”Jigeum Mannareo Gamnida” yang menjadi salah satu soundtrack lagu dalam salah satu drama Korea, Kkotboda Namja atau yang biasa dikenal dengan nama Boys Over Flowers atau Boys Before Flowers (BBF). Hatiku merasa tenang dan tenteram sekali ketika mendengar lagu tersebut.
”Tunggu!” teriak seseorang di kejauhan. Aku tersentak kaget dan membuka mataku. Disekelilingku hanya terdapat pohon-pohon musim gugur dalam jumlah banyak. Aku tidak melihat siapa pun selain diriku yang berada di tempat itu. Mulutku menganga. ’Tidak! Tadi aku berada di pesawat. Kenapa bisa berada di sini?!’ aku melompat setinggi-tingginya dan teriak-teriak seperti orang gila saking takut dan paniknya.
Krek... kresek... kresek...
Bunyi itu membuatku melompat kaget. Ada apalagi?!
Tiba-tiba angin bertiup kencang, menyapu debu dan guguran daun. Aku menutupi wajahku dengan tangan, antisipasi agar mataku tidak kemasukan debu. Tapi, alhasil, percuma saja. Beberapa debu dapat menyelip diantara jari-jariku dan masuk ke mataku. Aku meringis kesakitan. Angin, debu, dan dedaunan menerpa wajahku. Dan saat itu juga, aku mendengar seseorang berteriak lagi. ”Tunggu!” Aku yang sedari tadi menutup mataku mencoba membuka sedikit mataku dengan usaha yang tidak mudah dan melihat seorang wanita dewasa yang sedang mengejar seorang anak kecil yang berlari ke sana-kemari. Ketika aku sedang melihat kejadian itu, angin bertiup semakin kencang, lebih kencang dan lebih kencang lagi. Tiupan anginnya sangat kencang sehingga aku harus bersusah payah untuk tetap berada di tempat. Tubuhku digerakkan dan di bawa mundur oleh dorongan angin itu, membuatku terpaksa berteriak keras : ”Tolong!”
”Nona, nona..”
Suara itu! Aku sangat mengenali suara itu!
”Tenanglah nona. Mohon tenang sebentar.”
Aku membuka mataku dan mendapati diri sedang duduk dalam keadaan yang tidak baik. Jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama akan membuat tubuh kita pegal-pegal. Dan memang benar, ketika aku membenarkan posisi dudukku, aku merasa badanku sakit semua. Pak Lee, asisten kedua papa, yang merupakan warga negara Korea menatapku dengan tatapan bingung.
”Ayah nona sedang beristirahat. Mohon tenang nona. Dia sangat lelah hari ini. Jadwalnya sangat padat dan dia butuh istirahat. Apakah nona merasa kurang enak badan?”
”Tidak. Saya merasa baik. Hanya saja, sekarang badan saya terasa pegal dan sakit. Sebenarnya apa yang terjadi dengan saya, sampai-sampai anda membangunkan saya?” tanyaku bingung.
”Maaf nona. Tapi tadi nona berteriak minta tolong, menangis dan meraung-raung seperti sedang kesulitan dan mengalami masalah.” jawabnya sambil membungkukkan badan pertanda menyesal dan meminta maaf.
”Oh, begitu ya. Terima kasih sudah peduli pada saya. Tidak. Anda tidak perlu menyesal dan meminta maaf. Saya sangat senang karena anda dapat melepas dan mengeluarkan saya dari mimpi buruk saya tadi” jawabku sambil tersenyum.
”Jika nona ingin beristirahat kembali, mari saya bantu untuk meposisikan tempat duduk nona. Apa nona belum tahu pesawat ini memiliki tempat duduk flatbed* ?” kata Pak Lee menawrkan diri.
(*Flatbed adalah tempat duduk dalam pesawat yang bisa diposisikan menjadi seperti tempat tidur.)
”Saya tahu. Tidak, terima kasih. Anda sudah melakukan banyak hal untuk membantu saya. Lebih baik, anda beristirahat saja bersama dengan Pak Johnson.”
Pak Johnson adalah asisten papa yang pertama atau yang utama. Beliau berasal dari Amerika dan bergabung dengan grup papa sekitar empat tahun yang lalu. Aku merasa malu dan pipiku memerah ketika Pak Johnson melewati tempat dudukku dan membungkukkan badan padaku. Aku pikir, Pak Johnson sedang beristirahat. Karena aku yakin, dia juga pastinya sangat lelah.
”Maaf nona. Kami sudah beristirahat beberapa jam yang lalu dan sebentar lagi kita akan sampai di Jepang.” kata Pak Lee tersenyum.
”Oh, sudah mau sampai rupanya...” gumamku sambil melihat ke luar jendela. Dan ternyata benar. Aku mengenali lingkungan sekitar tempat ini. Meskipun aku melihat dari atas, tapi setiap aku melewati tempat aku merasakan sesuatu yang berbeda.
”Pesawat sudah sampai di daerah kota Tokyo. Mohon untuk mempersiapkan diri.” pilot Papa berkata melalui pengeras suara.
Perlahan-lahan kami mulai mendarat. Perdana menteri grup papa sudah menunggu di bandara. Angin sepoi-sepoi berhembus ketika aku menginjakkan kaki di tanah Jepang, tempat kelahiran papa. Setelah bersalaman dengan kerabat papa, aku segera masuk mobil. Aku berangkat lebih dulu karena merasa sudah terlalu lelah. Tetapi papa harus bertemu dengan beberapa tamunya. Jadi aku pergi dengan salah satu asisten papa dan beberapa pelayan.
Begitu sampai di residence, aku segera mencari kamarku. Kamarku bernomor 112, di lantai dua. Kamarku bersebelahan dengan kamar papa. Ketika menemukan kamarku, aku langsung membuka pintu dan menikmati empuknya ranjangku. Pengawal papa membawakan tas dan koperku. Sambil mengecek seluruh isi kamarku, memastikan semuanya aman dan dalam keadaan baik. Seharusnya aku tidak melupakan koper dan tasku supaya yang masuk ke dalam kamarku tidak perlu pengawal sebanyak sekitar 10 orang. Aku ingin kamarku sepi tapi nyaman. Ya sudahlah, yang sudah terjadi biarkan terjadi.
”Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin tidur siang sebentar” kataku pada kepala pelayanku.
”Baik, nona.” kata kepala pelayanku sambil membungkuk sembari meninggalkan kamarku.
’Akhirnya bisa sendiri’ pikirku senang. Setelah mencuci muka, sikat gigi dan mencuci tangan dan kaki, aku berdoa agar saat aku terlelap, jangan sampai mimpi yang aku alami saat di pesawat itu kembali lagi. Dan permohonanku terkabul. Tidurku pulas sekali. Aku merasa seratus kali lebih baik setelah menikmati tidur panjangku. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Hampir saja aku melonjak ketakutan. Kamarku yang sunyi diganggu oleh suara ketukan itu! Menyebalkan sekali. Rupanya kepala pelayanku yang mengetuk pintu.
”Masuk” jawabku.
”Waktu minum teh, nona. Tuan ingin bertemu dengan nona di bawah” katanya singkat, lalu pergi. Aku segera mencuci wajahku yang berminyak, bersiap dan turun ke taman bawah.
Aku menemukan papa sedang bersama dengan seorang lelaki remaja seumuranku. Aku menghampiri papa yang sedang sibuk membaca koran. Aku berdiri terpaku. Siapa lelaki itu? Mengapa dia bisa berada bersama papa? Apakah itu pelayan baru papa? Tapi kulitnya sangat bersih, mulus dan putih. Aku saja sampai iri melihat kulitnya yang terlihat sangat lembut itu. Dan, wow,... badannya seperti model. Ramping dan keren...
Rupanya keberadaanku sudah diketahui oleh papa. ”Ayo duduk.” Kata-kata papa mengagetkanku yang sedari tadi melamun dan menarik perhatian lelaki itu yang tadinya sedang asyik membaca buku. Kami saling pandang selama beberapa detik, lalu aku segera menempatkan diri duduk di sebelah papa. Papa dan lelaki itu berdiri sebagai sedikit sambutan atas kedatanganku. Tanpa basa-basi, papa segera mengenalkanku dengan lelaki itu. ”Dia anak teman papa dari Korea. Jang Geun Yoon. Kebetulan, Geun Yoon dan ayahnya juga sedang berlibur ke Jepang. Jangan khawatir kalau kamu belum terlalu lancar bahasa korea. Dia bisa berbahasa Indonesia, kok” kata papa. Dua kalimat terakhir dia ucapkan dengan bisikan supaya tidak terdengar. ”Geun Yoon, ini anak om, Angela Corine.”
”Hai. Senang berkenalan denganmu. Aku, seperti yang sudah dijelaskan oleh ayahmu, aku Jang  Geun Yoon” katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dengan hangat sambil berkata ”Senang berkenalan. Aku Angela Corine. Tapi kamu bisa memanggilku Yoon Jung Hye. Itu nama koreaku” kataku sambil tertawa kecil. Aku merasa aneh ketika mengucapkan kalimat itu. Samar-samar aku melihatnya ikut tertawa dan menatapku lekat-lekat saat aku tertawa tadi. ”Senangnya punya teman baru dari Korea,” tambahku. ”Jangan sampai kehadiranku membuat kalian berdiri terus sejak tadi.” Sepertinya, kalimatku yang terakhir sangat berpengaruh bagi mereka. Serentak, papa dan Geun Yoon segera duduk kembali.
”Corine, sore ini kita akan ke gereja. Setelah itu kamu boleh berjalan-jalan keliing kota Jepang” kata papa memecah keheningan.
”Tapi aku nggak mau ditemani banyak pengawal. Cukup 1 atau 2. Itupun, di belakang saja ya...” kataku sambil mengekspresikan wajah seperti sangat memohon agar papa mau mengabulkan permintaanku. ”Iya. Baiklah.” Hatiku begitu lega mendengar kalimat papa yang satu itu. ”Tapi, kamu harus ditemani Geun Yoon. Dia sudah agak lama berada di Jepang. Beberapa minggu yang lalu dia sudah tiba di sini. Jadi, dia sudah mulai hafal tempat-tempat di sekitar sini.” lanjut papa sambil tertawa terkikik. Senyumku sedikit memudar, kemudian kembali tersenyum ceria. Meskipun merasa kurang enak, tapi dia kan teman baruku. Aku tidak mungkin langsung menyakiti hatinya. Aku menatap Geun Yoon dan dia membalasnya dengan tatapan hangat.
Sore itu aku bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Aku masih punya waktu 15 menit sebelum di jemput untuk pergi ke gereja. Lebih baik aku menemui anjingku yang dipelihara di sini saja. Namanya Jolly. Aku memberi nama Jolly dari nama anjing di salah satu drama Korea. Ketika aku hampir dekat di kandangnya, terdengar suara Jolly. Kedengarannya dia sedang gembira sekali. Aku rindu sekali pada gonggongan gembiranya itu. Jangan-jangan dia juga sangat merindukanku jadi belum sampai di kandangnya saja dia sudah tahu bahwa aku akan datang menemuinya. ’Jolly itu memang anjing yang pintar’ pikirku. Tapi betapa kagetnya aku. Dia menggonggong bukan karena tahu aku akan datang. Dia sedang bermain dengan Geun Yoon! Hatiku sedikit kecewa karenanya.
Penglihatan Geun Yoon tajam juga. Dia bisa melihatku dalam jarak yang cukup jauh. Dia segera berlari menghampiriku sementara Jolly mengikutinya di belakang. Dia terengah-engah ketika sampai di dekatku.”Eh, tuan puteri Jung Hye sudah datang!” godanya.
”Enak saja. Aku bukan tuan puteri tau!” Kami tertawa bersama.
Dia duduk di rumput empuk taman samping. Tampak sangat kelelahan. Aku akan membuat kejadian ini seperti adegan dalam drama Korea. Aku mengambil sapu tanganku dan menyeka keringatnya.
”Terima kasih” katanya.
”Ch’onmaneyo” jawabku.
”Kamu bisa berbahasa Korea?” tanyanya.
”Tidak terlalu” jawabku.
”Kalau begitu kita berbicara menggunakan bahasa Korea saja” katanya.
”Maaf. Tapi aku akan sulit berbicara karena setiap kali aku berusaha untuk berbicara bahasa Korea. Bisa-bisa, aku akan membisu seharian” kataku sambil mengangkat alis.
”Huummm... baiklah. Permintaanmu aku terima. Berarti, kamu juga harus menuruti 1 permintaanku,” ucapnya. ”Bawalah aku pergi bersamamu malam ini ke tempat yang kau sukai. Biarkan aku di sampingmu, menemanimu.”
Hatiku terasa sedikit hangat mendengar kalimat tersebut. Ini malah benar-benar seperti drama Korea. Aku suka setiap adegan yang seperti ini!
Aku hanya tersenyum mendengar kalimatnya itu. ”Iya, baiklah. Aku suka jalan-jalan. Apalagi kalau ditemani. Tapi kalau ditemani bodyguard, aku malah benci.”
”Sepertinya, waktu yang dinantikan sudah hampir tiba. Aku mau berganti pakaian dulu ya...” Geun Yoon meninggalkanku sambil tersenyum. Di kejauhan aku mendengar samar-samar dia berseru dengan suara cukup keras. Seperti seruan bahagia. Aku memukul kepalaku. Aku pasti sedang bermimpi atau berimajinasi. Geun Yoon itu anak yang pendiam, istilahnya kalem. Dia orang yang santai dan hangat. Dia tidak mungkin berteriak atau berseru, karena dia pasti sudah tahu papa tidak menyukai seseorang berbuat hal yang mengakibatkan kegaduhan di dekatnya atau di lingkungannya. Itulah alasan mengapa papa membuat suasana rumah sesenyap mungkin. Tapi, menurutku juga tidak baik terlalu sepi. Aku suka suasana yang sepi, tapi hanya di waktu-waktu tertentu. Papa terlalu berlebihan, sampai-sampai rumah kami seperti kuburan sunyinya. Sambil menunggu Geun Yoon bersiap-siap, aku memutuskan untuk bermain sebentar dengan Jolly. Dia anjing yang manis dan penurut. Aku selalu merasa bahagia ketika bermain bersama dengannya. Terasa ada perubahan perasaan. Aku merasa lebih baik setelah bermain bersama Jolly.
Aku ingin berlama-lama dengan Jolly. Tapi waktu mendesakku agar segera kembali ke halaman depan. Maka dari itu aku menitipkan Jolly pada pelayanku yang biasa mengurusnya dan berlari kembali ke halaman depan. Mataku membulat. Dan sepertinya mulutku menganga. Ya Tuhan, apa benar itu dia? Geun Yoon tampak berdiri dengan anggun seperti lelaki sejati yang dicari seluruh orang di dunia. Aku segera menutup mulutku, dan membuat mataku tampak seperti biasa. Tapi, aku rasa, mata ini tidak bisa kembali normal. Seperti ada yang mengganjal. Aku mendekatinya.
”Kau... Geun Yoon?” tanyaku.
”Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku?!” jawabnya sembari tersenyum. Senyum termanis yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku merasa aneh, merasa ada sesuatu yang janggal dalam diriku ketika aku melihat senyum manisnya. Darah hangat mengalir berirama, Jantungku! Ya. Aku merasa ada yang tidak beres dengan jantungku. Spontan, tangan kananku menyentuh dadaku. Detakan jantungku, cepat dan terasa sekali saat aku menyentuhnya. Untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan, aku segera berlari masuk ke dalam rumah, mencari-cari air mineral. ’Aku ini kenapa sih? Masa, air mineral saja sampai lupa di mana letaknya. Tentu saja di lemari pendingin atau dapur, lah!’ batinku. Setelah mengambil air mineral, aku segera membuka segelnya dan meminumnya. Aku habiskan hingga tidak tersisa satu tetes pun. Setelahnya, aku merasa sedikit lebih baik. Mendadak, ada seseorang yang menarik tanganku dan menyeretku agar aku mengikutinya. Tarikannya seperti ajakan. Tidak sakit. Siapa sih?! Kalau pelayan, mereka tidak akan berani berbuat hal semacam itu padaku. Sekalipun mereka akan melakukannya, mereka pasti akan meminta ijin terlebih dahulu padaku. Siapa orang misterius ini?
Ketika rambutnya tertiup angin, barulah aku sadar siapa dia. Geun Yoon. Aku mulai merasa tidak enak dan tidak nyaman. Kenapa ya? Seharusnya aku bahagia memiliki teman seperti dia. Tetapi kenapa malah begini? Dia menarikku masuk ke dalam mobil. Rupanya, pak sopir sudah menungguku sejak tadi. Untung Geun Yoon mengajakku dan menarikku. Jika tidak, aku pasti terlambat sampai di gereja.
”Maaf aku tadi menarikmu. Terasa sakit di pergelangan tanganmu?” tanyanya halus sambil menyerahkan kepadaku sebotol air mineral.
”Tidak. Apa ini?” tanyaku balik.
”Ini untukmu. Air mineral. Aku dari tadi mengawasimu. Kau minum banyak air putih, padahal waktu sudah hampir tiba. Jadi aku menarikmu dan sebelumnya, aku sudah mempersiapkan ini. Siapa tahu, acara minum-minummu belum selesai” jawabnya panjang lebar.
”Ah,... itu... sudah. Terima kasih.” Aku mengambil botol air mineral yang masih berada dalam genggamannya.
Ternyata, Geun Yoon ternyata juga taat beribadah. Dia serius dalam mengikuti perayaan ekaristi (perayaan ibadah) sore itu. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh. Kehadirannya di dekatku membuat jantungku tidak henti-hentinya meraung-raung seperti alarm kebakaran. Aku berusaha sebisaku agar aku dapat tenang dan dapat mengikuti perayaan ekaristi dengan baik sore itu.
Setelah perayaan ekaristi selesai, aku segera masuk ke dalam mobil. Mataku terasa sangat berat. Ketika di perjalanan, aku menyandarkan kepalaku pada bahunya. Aku lupa bahwa itu Geun Yoon. Bukan papa.
Pagi harinya, Geun Yoon sudah duduk di sebelah tempat tidurku. Dia tersenyum melihatku sudah bangun.
”Tidurmu nyenyak sekali. Jam 8 pagi baru bangun” katanya.
”Benarkah? Umm,...  Oh, tidak! Maaf! Aku melupakan acara kita yang seharusnya kita lakukan kemarin malam. Maaf sudah merepotkanmu!” ucapku sambil menundukkan kepala.
”Aku lebih senang bersantai denganmu siang ini. Karena, pasti kau lebih menikmati dibanding jika kita berjalan-jalan kemarin malam. Bisa-bisa aku harus menggendongmu pulang,” katanya sambil berdiri. ”Sudah kusiapkan makanan untukmu. Mandi dan bersiaplah. Aku akan menunggumu di taman depan.”
Aku menunggunya sampai keluar kamar. Setelah dia pergi, aku segera menyantap makanan yang telah dihidangkannya untukku. Jika benar dia yang memasak makanan ini, menurutku masakan ini enak sekali. Dia pintar memasak rupanya.
Aku berusaha untuk membuatnya tidak terlalu lama menunggu. Sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di hadapannya. Aku baru sadar, model pakaian kami sama. Celana jeans, kaos putih, jaket hoodie, sepatu kets, dan topi dengan warna hitam. Bagaimana bisa sama?!
”Jung Hye, ayo kita berangkat!” katanya bersemangat. Kami berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju mobil. Rasanya menyenangkan dapat bersama-sama dengannya. Tapi, rasa janggal itu pasti juga muncul setiap kali aku bersamanya.
Hari itu terasa menyenangkan sekali. Kami bisa tertawa sepuas hati. Menyenangkan diri, melakukan hal-hal yang menyenangkan, tanpa ditemani bodyguard. Ini sangat mengasyikkan!
Setelah lama berjalan keliling kota, mampir ke supermarket, sekarang hanya berkaraoke ria dan menonton film yang belum kami lakukan. Kami sepakat untuk menyaksikan film terlebih dahulu. Film yang kami saksikan sangat mengharukan, sampai-sampai mataku memanas. Hampir saja aku menjatuhkan air mataku, tapi Geun Yoon sudah lebih dulu memberiku sapu tangannya. Aku mengusap air mataku yang masih saja sempat jatuh, dan mataku yang berkaca-kaca. Selesai menonton film, kami segera mencari tempat untuk berkaraoke yang nyaman dan menyenangkan. Kami memilih tempat karaoke dengan lagu paling lengkap dari seluruh dunia.
Kami bernyanyi bersama. Suaranya lembut dan indah. Dia juga pintar bernyanyi rap.
”Jung Hye, kau tahu Super Junior, boyband asal Korea Selatan?” tanyanya ketika kami akan memilih sebuah lagu lagi untuk kami nyanyikan bersama.
”Iya. Aku tahu. Aku suka sekali Super Junior! Aku mengoleksi album dan lagu-lagu mereka. Aku juga menyempatkan waktuku untuk menyaksikan konser mereka”  jawabku.
”Bagus. Berarti, kamu bisa menyanyikan lagu-lagu dari Super Junior?” tanya Geun Yoon.
”Tentu saja. Ayo kita bernyanyi lagu Super Junior!” kataku sambil mencari-cari lagu Super Junior yang ingin kami nyanyikan.
Suara Geun Yoon lembut sekali. Jika disamakan dengan personil Super Junior, dia paling mirip dengan Kyuhyun dan Eunhyuk. Geun Yoon seperti gabungan dari mereka, Kyuhyun dan Eunhyuk. Kyuhyun dan Eunhyuk sama-sama memiliki tampang yang bagus dan keren, serta suara yang bagus pula. Hanya saja, Kyuhyun lebih bagus dan cocok menyanyikan lagu yang iramanya tidak terlalu cepat, sedangkan Eunhyuk cocok menyanyikan lagu yang iramanya cepat atau rap. Menurutku, Geun Yoon cocok lebih cocok menyanyikan lagu yang iramanya tidak terlalu cepat, sama seperti Kyu hyun.  Meskipun dua-duanya sama-sama bagus. Ketika aku memuji suaranya yang indah, dia balik memujiku. Katanya, suaraku lembut dan enak untuk didengar. Aku merasa sangat senang mendapat pujian darinya. Orang-orang di sekitarku memang mengatakan suaraku bagus dan lembut. Hanya saja, entah kenapa pujian dari Geun Yoon membuatku bahagia berkali-kali lipat. Aku berusaha untuk bersikap biasa setelah pujian yang dilontarkannya untukku.

kalimat promo cerita panjang "Hati yang Tersentuh"

Bercerita mengenai seorang gadis yang dimanja dengan kekayaan, tetapi gadis itu malah membencinya. Liburannya ke Jepang membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda yang selalu membuatnya gugup, tapi di sisi lain, dia juga merasa senang. Saya berusaha untuk membuat cerita yang sedikit berbeda. Tapi, karena ini pertama kalinya saya membuat cerita, jelas dan tentu masih banyak kekurangan. Mohon kritik, saran dan komentar dari anda sekalian agar saya bisa memperbaiki kesalahan yang telah saya buat dan berusaha untuk menjadi lebih baik.

Jumat, 01 Januari 2010

Untuk Saling Memberi-cerpen

Disebuah kerajaan tinggallah dua orang puteri. Putri Kirana dan Putri Diana. Sifat mereka sangat berlawanan. Putri Kirana diakui rakyatnya sebagai putri yang yang baik, sopan, rendah hati dan suka menolong. Sedangkan Putri Diana dikenal sebagai putri yang suka memerintah, tidak sabaran, dan mementingkan diri sendiri dibandingkan anggota keluarganya dan seluruh rakyatnya. “Mereka memang senang berbohong. Kamu membayar mereka, bukan?Kamu tahu Kirana, bahwa mereka semua pengecut!”kata Diana suatu ketika saat mereka sedang berjalan-jalan ditaman kerajaan. “Kamu tidak akan pernah mengetahui bagaimana sebenarnya mereka jika kamu selelu menganggap rendah rakyat kita dan tidak mau bergaul dengan mereka. Mereka sebenarnya sangat baik. Aku ditolong mereka ketika terjatuh dari kuda seminggu yang lalu. Kamu masih ingat?”tanya Kirana. “Sama sekali tidak ingat!”jawabnya berbohong. “Kamu lihat beberapa hari kemarin di panti jompo?para tua-tua itu menyedihkan sekali”tambah Diana sambil tertawa sinis. “Kau juga akan merasakannya nanti”kata Kirana sabar sembari pergi membawa keranjangnya yang penuh berisi bunga. Saat makan siang, Putri Kirana dan Putri Diana diperintahkan oleh ayahandanya untuk pergi berjalan-jalan dan mengamati bagaimana keadaan rakyatnya. Mereka membawa bekal beberapa potong roti isi yang biasa disebut juga sandwich. Mereka berjalan-jalan menggunakan pakaian rakyat biasa. Mereka berjalan-jalan ditemani oleh seorang prajurit. “Aku paling sebal jika diperintahkan ayah untuk jalan-jalan dengan pakaian lusuh dan kumuh ini seakan kita ini orang miskin!”keluh Diana saat mereka sedang mengamati para petani yang sibuk bekerja. Putri Diana mengeluh, mengeluh dan terus mengeluh. “Aku bosan mendengar semua keluhanmu, Diana! sudah cukup semua keluhan itu! kamu juga terus-menerus mencela mereka. Berusahalah memuji apa yang telah mereka lakukan untuk kita”kata Kirana marah. “Memang mereka melakukan apa untuk kita?Tapi supaya kamu puas baiklah, mereka sangat baikkk…mereka berbuat segalanya untuk kita!”teriak Diana dengan nada mencemooh kepada Putri Kirana. Putri Kirana menangis dan segera pergi. Sang prajurit sempat mengejar Kirana dan menemukannya menangis dalam sebuah hutan dipinggir danau. Sang prajurit berusaha menghibur Kirana tapi tidak bisa. Kirana hanya mengucapkan terima kasih dan mengusap matanya yang bersimbah air mata. Diana berjalan lurus dan lurus tanpa tahu dimana dia sekarang. Sampai akhirnya ia tersesat dikerajaan tetangga. Ia menelusuri hutan, pemukiman penduduk dan sampailah ia disebuah hutan. Saat sedang berjalan-jalan ada sebuah anak panah yang mengarah kepadanya. Sang pemanah terkejut dan melepas anak panah itu lalu pergi membiarkan Diana dalan keadaan terluka karena mendengar seseorang datang. Diana tak dapat berbuat apa-apa. Dia pingsan. Tak lama kemudian Diana mendengar samar-samar suara orang yang semakin lama semakin keras. Diana mulai sadar! ”Diana, akhirnya!”seru Putri Kirana menangis sambil memeluk saudarinya itu. “Dimana aku?”tanya Diana lirih. “Dirumah salah satu penduduk. Dialah yang menolongmu dan menyembuhkanmu. Untuk saja panah itu tidak menancap terlalu dalam. Tapi salah satu bagian dalam tubuhmu mengalami peradangan yang cukup hebat. Perutmu akan terasa sakit dalam beberapa hari”jawab Kirana panjang lebar. “Katakanlah padanya rasa terima kasihku untuknya”ucap Diana terbata-bata. Kirana terharu dan mereka berdua saling berpelukan. Mereka pun pulang ke istana. Beberapa bulan kemudian kesehatan Diana sudah pulih walaupun kadang-kadang masih terasa nyeri. Sifat baik Diana hanya bertahan selama beberapa hari. Setelah itu sifat buruknya kembali seperti semula. “Diana, temani aku jalan-jalan yuk!aku berjanji tidak akan meniggalkanmu lagi”kata Kirana setelah makan siang. “Dengan pakaian itu lagi?”tanya Diana sebal. “Baiklah, terserah kamu mau menggunakan pakaian apa”kata Kirana bersabar. “Aku mau pakai pakaian dari Eropa itu lho…!!!!”kata Diana dan pergi meninggalkan Kirana sebelum Kirana dapat berbicara lebih lanjut. Seperti biasa, mereka berjalan-jalan sekitar kerajaan. Mereka membawa bekal roti isi. Ditengah perjalanan, mereka melihat seorang wanita tua bungkuk membawa barang rongsokannya dalam sebuah kantung. Kirana merasa iba pada wanita tua itu. Ia pun bermaksud memberikan bekalnya pada wanita itu. “Bu, tolong ambillah makanan ini”kata Kirana tulus pada wanita itu sambil menyodorkan roti isi miliknya. Diana yang melihat hal itu pun memberontak. “Kirana apa-apaan ini?! dia itu hanya wanita pemalas yang tidak mau bekerja! dan dia hanyalah wanita jorok tak tahu diri!”teriak Diana keras-keras tanpa rasa malu. Wanita tua itu yang mendengar perkataan Diana menundukan kepala dan hendak pergi tapi dicegah oleh Kirana. “Jangan hiraukan perkataannya, bu. Maaf atas kata-katanya yang menyakitkan tadi. Bawalah ini, bu. Terima kasih”kata Kirana lembut, menyerahkan bekalnya dan menarik saudarinya hingga sampai ke sebuah sungai. “Untuk apa kita ke sini!disini tidak enak, tidak memuaskan!kita kan bisa bicara di taman kerajaan!kenapa harus disini?”seru Diana. “Karena disinilah sumber kehidupan. Ya, air. Juga mahkluk didalamnya. Aku ingin bercerita dan mengajarkannya padamu sesuatu yang bisa menjadi sesuatu keajaiban dalam hidupmu. Kamu heran dan marah ketika melihat aku menyerahkan bekalku untuk wantia tua itu. Andaikan wanita itu adalah mama kita, betapa menderitanya dia. Sosok yang paling berharga untuk kita. Bukankah begitu?” Diana hanya terdiam. “Kamu tahu, kita seperti malaikat dari surga yang dilahirkan dibumi untuk membantu sesama kita dan orang lain. Tujuan utama kita ada di dunia untuk saling berbagi. Bukan untuk menikmati apa yang kita miliki segalanya untuk diri kita sendiri. Andai kata, orang tua kita hanyalah rakyat jelata, yang miskin, melarat, menderita dan tidak bisa menikmati apa yang dapat kita nikmati sekarang. Kita seperti apa jadinya?tidak sesempurna sekarang. Berusahalah untuk selalu memberi dan berbagi dalam keadaan suka maupun duka”Kirana mengakhiri penjelasannya dan melihat ada air bening mengalir dari pelupuk mata saudarinya. “Berjanjilah padaku agar kita saling berbagi kepada rakyat dan orang lain”Kata Kirana. “Baiklah”jawab Diana singkat. Mulai saat itu, mereka berdua terkenal sebagai putri yang suka berbagi. Dan mereka berusaha untuk menyempatkan diri mendatangi sungai yang penuh sumber kehidupan itu. Dimana akan terjadi sebuah keajaiban. Seperti kata Kirana.



^_^

(Devi)